Showing posts with label Concoction. Show all posts
Showing posts with label Concoction. Show all posts
Serangkai Madah...
- Sunday, July 15, 2012
- Write comment
Takkan ku kenang lagi, kisah mimpi semalam.
Tak perlu ku kembali, memori nan kelam.
Esok girang menanti, unggas menyanyi ria.
Menyinsing tirai pagi, diufuk fajar suria.
Namun hatiku sepi, ceria luput selama.
Kelmarin tiada lagi, parut pedih tanda luka.
Di Tasik Sunyi
- Saturday, December 31, 2011
- Write comment
Kuteguk hirup, petala mimpi,
beralas redup, sisip memori.Bingkis rindu, tiada lagi,
hanya syahdu, cinta duniawi.
Tiada dendam, tiada lara,
hanya sepi, menanti senja.
Ketiika dulu, engkau dan aku,
berkongsi seru, irama lagu.
Jantung berdegup, melirik mata,
jari berpaut, puitis kata.
Hanya sepi, alunan alpa,
di tasik sunyi, tingalan kita.
Soul Crescent
- Saturday, December 31, 2011
- Write comment
I was dark,
brimming fears,
hidden tears,
tumbling years.
touched by light,
borrowed brilliance
soul-confluence
star-seed's countenance.
Now I bloom,
iridescent
awakened latent
transcendent.
Mengejar Memori
- Sunday, November 27, 2011
- Write comment
Ku masih berlari-lari,
mengejar cebis memori,
menangkup kembali diri,
dirungkai realiti.
Ku susur jalan yang sepi,
ke hujung sisa mimpi,
merangkul noktah sunyi,
buat penawar hati.
Velvet Skies
- Tuesday, November 15, 2011
- Write comment
the velvet skies my road,
as painted moonbeam sighs,
accosts the miles I trod.
On paths where promise holds,
and timid hearts unfurl,
for eyes dance twinkle glow,
and lips blush candy smiles.
Gempa
- Wednesday, October 26, 2011
- Write comment
Ragas besi pagar UPSI
walau bisu tegar saksi
penumbuk belantan sepatu kuasa
menolak hak suara siswa
terkujur tubuh dilokap jasad
namun semangat tiada lumat.
Dari lubuk dulu perca
tindas AUKU paksa penguasa
bangkit bangun tegak semula
megah gagah tegap perkasa
semangat juang aktivis siswa
pemangkin hala tuju negara.
Asas hakiki natijah pemuda
semangat juang untuk semua
sebar tebar ikrar war-war
kudrat istilah ikhlas wajar
bebas adil hak minda
kanun fitrah alam semesta.
Dengar gema sabung petir
hentak kaki ratusan hadir
semangat jitu jiwa raga
titis darah nafas nyawa
rentak pencak tari muda
deru derau arus gempa.
Dulu kelam kembali nyala
tegas cergas tegak siaga
obor jomong api mahligai
menara gading dulu digadai
kini kembali terang cahya
singkir kelam angkara senja.
*Didekasikan semula untuk aktivis-aktivis pelajar yang diserbu polis ketika perhimpunan aman di UPSI Tg Malim.
Praise for Sheena
- Saturday, October 15, 2011
- Write comment
Like a diadem it sits,
the third eye to her forehead,
beauty marking beauty,
the cradle of lovely phrase.
As like a monument she breathes,
the center universe to this Dervish.
As round and round the stage,
I dance the world her praise.
Gema
- Friday, September 30, 2011
- Write comment
Dengar!
Bunyi keringat nan menitis
degup jantung bagai petir
deru darah yang mengalir
putar minda yang berfikir.
Dengar!
Mergastua nan menangis
rimba tumbang bukit hakis
tanah adat tinggal nipis
harta alam jarah habis.
Dengar!
Suara rakyat hidup derita
Pribumi dihalau dihumban papa
tangis rintih anak bangsa
hidup sisih dibumi merdeka.
Bangun!
Bangkit berdiri penyair muda
biar puisi jadi senjata
angkat pena jadi gerila
lawan penjajah akal dan minda.
Satu nada satu suara
titik tanda cetus acara
susun alun dibina gema
nukilan tinta nurani kata.
Dulu diikat kini terbuka
jangan diikut pembunuh idea
buang tempurung keluar segera
kita generasi harapan negara.
Sedar!
Buka mata segar telinga
lihat dengar peka segala
betul salah jangan teka
mesti tahu tengok periksa.
Lapuk usang di atas takhta
diundi rakyat tidaknya berjasa
tanya alasan sebab alpa
nasib kita jadi perca.
Jerit tak dengar kita dilupa
mungkin masa diajar belaka
bila masa toba pangkah
biar penindas jadi noktah.
Gema! Gema! Gema!
Biar beralun gegar udara
suara tinta hasrat sirna
canang rancak rentak irama
merubah nasib diri negara.
Bunyi keringat nan menitis
degup jantung bagai petir
deru darah yang mengalir
putar minda yang berfikir.
Dengar!
Mergastua nan menangis
rimba tumbang bukit hakis
tanah adat tinggal nipis
harta alam jarah habis.
Dengar!
Suara rakyat hidup derita
Pribumi dihalau dihumban papa
tangis rintih anak bangsa
hidup sisih dibumi merdeka.
Bangun!
Bangkit berdiri penyair muda
biar puisi jadi senjata
angkat pena jadi gerila
lawan penjajah akal dan minda.
Satu nada satu suara
titik tanda cetus acara
susun alun dibina gema
nukilan tinta nurani kata.
Dulu diikat kini terbuka
jangan diikut pembunuh idea
buang tempurung keluar segera
kita generasi harapan negara.
Sedar!
Buka mata segar telinga
lihat dengar peka segala
betul salah jangan teka
mesti tahu tengok periksa.
Lapuk usang di atas takhta
diundi rakyat tidaknya berjasa
tanya alasan sebab alpa
nasib kita jadi perca.
Jerit tak dengar kita dilupa
mungkin masa diajar belaka
bila masa toba pangkah
biar penindas jadi noktah.
Gema! Gema! Gema!
Biar beralun gegar udara
suara tinta hasrat sirna
canang rancak rentak irama
merubah nasib diri negara.
Kata-kata buat Noramfaizul (Wartawan Bernama yang terkorban di Somalia)
- Saturday, September 03, 2011
- Write comment
Gugur titis, darah dan jiwa.
Seorang anak, suami dan bapa.
Buat sekilas warta Sang Putra.
Tragedi pilu di bumi Somalia.
Dimamah peluru tidak bermata.
Dipicu jari-jemari angkara.
Bumi rebutan puak sengketa.
Petugas warta hilang nyawa.
Kemana baju tak lut peluru?
Tanpa topi diikat ke dagu?
Adakah cukup latih siaga?
Atau dihantar tanpa sedia?
Untuk liputan cerita Sang Putra.
Jadi sembahan ke pentas media.
Soal, tanya, tagih, minta.
Jangan nasibnya sia-sia.
Tidak disoal takdir dijanji.
Tidak dipipih tugas profesi.
Namun dipinta telus halusi.
Moga ruhnya diberkati ilahi.
Heartstrings
- Thursday, September 01, 2011
- Write comment
It is no accident that when people speak of heart touching moments that they would allude to the phrase 'heartstrings'. For truly and indeed, the heart is an instrument.
It's music is emotions and the tones it creates are the very essence of life and human interactions.
The beatings of the heart are the melodies that links each and every moment, the surround sound that permeates and bound us all to the seasons of our lives.
Our duty is to provide the lyrics and sing out what our heart is already playing. Sounding out the symphony of intentions.
But therein lies the disconnect, what our heart sings and what we can actually accomplish.
You might wake up everyday to the heavenly music of the heart, but making it heard, and playing it note for note is another matter...
Sometimes there is just too much noise that you yourself cannot hear your heart's song, let alone convey it to your intended.
At times, the void of distance is too great that all you hear are echoes, and all that the world can perceive are muffled instances.
The heart is an instrument, but its strings oft plays only silence. But then again, we can't all be Mozarts, that would take away its significance.
Sometimes being tone deaf, or the passable pretense of it, is the best way forward.
There is music out there, in the stars, in the mystery of the twilight, but perhaps we are not all meant to see its conclusion.
An ode to the morn
- Sunday, July 17, 2011
- Write comment

I was the lonely one.
Sleeping through echoes, the endless lark,
the moldy solitude, lonely sine qua non,
unlit candles, and shriven heart,
the long silence, and requiem's dark.
I woke to sunlight, the warmth of morn,
technicolor tales, of futures borne,
to taste, to crave, to live, to want,
to chase, to give, to feel, to find.
I am the lucky one.
*Dedicated to all my family and friends who have made my life all the more fun
Penyair Tua (Kata-kata buat Pak Samad)
- Saturday, July 16, 2011
- Write comment
Penyair tua rundung kelu,
di depan penguasa tongkat dagu.
Apa salah apa dosa,
diheret runtun di caci cerca.
Penyair tua dikerah pergi,
lidah bergari dikasi hati.
Rambut putihnya tidak diendah,
tulisan indah dituduh terjah.
Penyair tua cuba dibisu,
karya digarap dikata melulu.
Tutur nurani diadu domba,
luahan rakyat dikata dusta.
Penyair tua takkan dilupa,
idola gerombolan muda peka.
Biar dicalit diomong noda,
Intan dan kaca terang berbeda.
Penyair tua bagai sangkakala,
penanda kiamat jahiliah minda.
Syairnya enak intinya sasa,
pemangkin tuju penyair muda!
di depan penguasa tongkat dagu.
Apa salah apa dosa,
diheret runtun di caci cerca.
Penyair tua dikerah pergi,
lidah bergari dikasi hati.
Rambut putihnya tidak diendah,
tulisan indah dituduh terjah.
Penyair tua cuba dibisu,
karya digarap dikata melulu.
Tutur nurani diadu domba,
luahan rakyat dikata dusta.
Penyair tua takkan dilupa,
idola gerombolan muda peka.
Biar dicalit diomong noda,
Intan dan kaca terang berbeda.
Penyair tua bagai sangkakala,
penanda kiamat jahiliah minda.
Syairnya enak intinya sasa,
pemangkin tuju penyair muda!
Like the heavens hold the stars
- Sunday, May 15, 2011
- Write comment

Upon stars the night does roam,
velvet skies and silver moon,
heavy eyes no rest to find,
but your face inside my mind.
To your name I cast the winds,
midnight breeze on angel wings,
sweet caresses I loose upon,
into your ears to whisper yon.
Your true north my compass show,
as the seas' faith to the shore,
like the heavens hold the stars,
and the mountains praise the sky.
I hate thee!
- Sunday, March 27, 2011
- Write comment

@soefira I hate thee! I have thee!
With the fires of a thousand Sorrento suns,
the heat of Vesuvius' ash and the burning Capri sands.
Blue moon wine
- Sunday, March 27, 2011
- Write comment

@sheenadin and so the blue moon dripped,
in cups of barley lime, the musty tangy tryst,
exquisite liquid fluid, fucking soft tongue.
My route lies into darkness...
- Saturday, March 26, 2011
- Write comment
Madah buat Hazwan & Zainor ( Bulan Madu Di Awan Biru)
- Saturday, March 26, 2011
- Write comment
Diiring pagi
bagai merpati
dua sejoli
kini bersemi.
Moga bahgia
ke hujung dunia
dara teruna
ikrar bersama.
Ku pinta doa
pada yang Esa
aman selama
kekal sentiasa.
Bermadu kasih
sesuci selasih
pinang di pipih
di susun sirih.
bagai merpati
dua sejoli
kini bersemi.
Moga bahgia
ke hujung dunia
dara teruna
ikrar bersama.
Ku pinta doa
pada yang Esa
aman selama
kekal sentiasa.
Bermadu kasih
sesuci selasih
pinang di pipih
di susun sirih.
Just as you are
- Thursday, March 10, 2011
- Write comment

As the shine and warmth
yellow smile of sun
you light the dark and gloom
make my day all fine.
As the playful roam
the naughty winds up high
you make a breeze of life
gave me cause to smile.
As the moon at night
the soft spoken heart
you soothe the beast inside
make me laugh aloud.
As the stars all bright
the guiding light of soul
you fill the empty parts
make me once more whole.
Into the deep (Provehito in Altum)
- Saturday, March 05, 2011
- Write comment
Subscribe to:
Posts (Atom)









